Senin, 19 Mei 2014

Menangkap Tuhan diantara derasnya Jeram

                      Menangkap Tuhan diantara derasnya Jeram.

Biasanya tak pikir panjang, jika ada tawaran rekreasi dari kantor, tapi tidak untuk kali ini. Pengalaman masa kecil ketika kegiatan Pramuka bersampan, membuat takutku cukup beralasan, belum lagi aku harus melawan takut ketinggian. Sedang hati kecil bicara aku harus ikut, sayang terlewatkan begitu saja ajang kebersamaan. Deal! Aku daftar.

Konvoi Land Rover semarak, hingga tak terasa jauhnya jarak, sepanjang jalan bernyanyi, sorak sorai berlagak bak serombongan angkatan yang berangkat menuju medan perang. Aroma berlaga sudah kerasa, Aku jadi terbawa semangat, sedikit beda ketika turun aku tak berani ikut ikutan loncat, harus sedikit merangkak layaknya emaknya emak ,....maklum usia kepala lima, ha ha ...

Hup... Kakiku melompat ke perahu karet, menyusul rekan yang sudah lebih dulu naik. Dengan sekali dayung perahu karetpun bergerak menyusur sungai, sesekali daun  lebat menghambat laju perahu. Sesaat berputar menghindar ketika dihadang batu besar dan setelah itu...Bumm.. Allahu Akbar, Allahu Akbar perahu dibanting arus deras jeram,oleng beberapa saat sebelum mampu dikendalikan.
Dug dug jantung berdegup kencang, spontan mataku memejam, selintas peristiwa masa kecil tergambar,... arh aku tak mau mengingatnya, kugiring keluar dari benak takut semakin liar. Ya Robbi hanya kepadaMu segala urusan kusandar.

Dayung kami terus menyibak sungai yang sudah kembali tenang. Di bawah rintik hujan teamku cukup tangkas, meski sesekali perahu kandas. Perahu makin menghampiri hamparan  pemandangan menakjubkan, subhanallah...sebuah jeram dengan air sangat deras dan curam, artinya sebentar lagi perahu akan terpelanting lebih dahsyat. Gemuruh suara air yang terjun deras dari ketinggian sangat gaduh, menambah hati makin tak utuh, dengan posisi simpuh aku pasrah total, mata memejam, yang terlintas dipikiran  hanya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, tak ada lain.

Satu, dua...bumm.. Perahu terjun dan meluncur tak terkendali lalu menghilang ketika membelah derasnya jeram. Refleks kupegang kuat tali diatas perahu, seketika jiwa plas... terbang tinggi terus mengangkasa, kutangkap Tuhan berbareng dengan deras air jeram menghujani tubuhku bertubi tubi. Seketika...derr nyaman luar biasa menjalar keseluruh raga, amboi...nikmatnya klimaks. Rasa sambung denganNya tak mampu tepat kutumpahkan dalam kata, yang jelas tak ada lagi rasa  cemas yang menindas dada. Air mata bergulir jatuh. Bahagia, haru campur menyatu, mungkin seperti ini rasanya 'sakauw'. -Bedanya sensasi 'sakauw' ini kucapai setelah aku benar benar pasrah totalitas (khusyuk) menghadirkan Tuhan.

Sesaat setelah berganti seragam loreng, semua menuju lokasi Flying Fox. Bagi yang takut ketinggian tak ikut ambil peran. Lho kenapa aku tak lagi takut ketinggian yang diawal aku khawatirkan?  Dengan tenang kunaiki tangga dan setelah giliranku tiba kuraih belt, klik klik, semua sudah terkunci. Suuuuuut .....dengan tali pengaman aku meluncur. Begitu mata melihat ke bawah, subhananallah... kutangkap kembali Tuhan di ketinggian. Airmata  jatuh berulang, mentafakuri apa yang terpandang, ayat-ayatNya di ketinggian ini tak mampu kubilang.

Kuhabiskan isak tangisku ketika sujud di Mushola, bersyukur atas nikmat yang tak terukur, lama aku tersungkur. Setelah menjamak sholat Ashar dan Dluhur, bergegas kumenuju saung, karena waktu untuk istirahat dan makan siang tak panjang.

Dengan ferry kami menyeberang menuju kawasan hutan untuk bermain Pin Ball. Tak banyak yang bisa kuceritakan. Aku memisahkan diri dari pasukan tak berapa lama setelah kami dilepas ditengah hutan, kusengaja balik kanan. Dengan hati hati aku jalan diantara desingan tembakan, meski dada dan kepala sudah dilindungi, aku tak bergairah, memilih menyerah.

Usai permainan kebersamaan membentuk lingkaran, rombongan mengemasi bawaan, bersiap menuju mobil untuk berkonvoy lagi.
Di tengah jalan konvoi berhenti untuk sholat Maghrib dan makan malam. Di sini masing masing perwakilan diminta menyampaikan kesan. Rata rata kesannya seru, asyik sekaligus menegangkan.
Bagiku tak sekedar seru dan asyik. Kesan yang dalam bagiku ketika kuberhasil menangkap Tuhan, karena kini jiwaku kembali tercerahkan, setelah sekian lama buram, tak mampu menghadirkan khusyuk, alasannya satu kata ' sibuk '. 

Salam maniz,
Bagi yg pernah membaca tulisanku ini di www.pksbandung.com
aku haturkan terima kasih.

Jumat, 02 Mei 2014

Caleg Gagal? Tak jadi soal!

     Perhatikan gambar pemanis halaman ini. Apa komentar anda?
Narsis! Ya boleh, tapi bukan itu bahasannya sih.
Coba periksa detail gaun yang dikenakannya, kain halus berhias bordir ditangan leher dan bagian bawahnya, menyiratkan tak murah harga yang harus dibayar.
Dan...itu diperoleh cuma cuma, pembagian dari salah satu Caleg Partai sesuai warna yang diwakilinya, sebut saja Ibu Saenah (nama samaran). Sebagian andapun tentu ada yang mengalami hal yang serupa namun bentuk pemberiannya berbeda.
Apalagi yang bergabung dalam satu komunitas, tidaklah bisa mengelak pemberian dari Caleg yang tujuannya untuk mendulang suara.

     Masih segar dalam ingatan, jelang pesta demokrasi, masing-masing calon wakil rakyat berebut simpati, yang tebal modal tak sayang mensponsori seragam majelis taklim seperti Ibu Saenah,  berharap dapat dukungan suara di Pemilu Legislatif tanggal 9 April 2014 baru-baru ini.
Adab yang yang menerima bantuan tentu berterima kasih dan tak lupa mendoakan kebaikan bagi yang memberi.
Tak terkecuali aku karena sudah tercatat dalam grup majelis taklim ini tapi sekaligus aku tim sukses dari partai yang berseberangan dengan Ibu Saenah.
Aku berdoa senetral mungkin, moga jika beliau terpilih mendapat bimbinganNya agar mampu amanah dan jika tak terpilihpun semoga imannya tak goyah, tak salah menyikapi takdir dipihak yang kalah.

     Bagi kami ini ajang pembuktian bagi masyarakat, apakah benar simpati seorang anggota dewan tak hanya membeli suara dengan iming-iming materi yang ujungnya tak diingat lagi.
Nah, sementara pemilu makin mendekati hari pelaksanaan, makin gencar adu simpati, berbagai cara yang ditembuh para Caleg, makin kreatif ide untuk memanjakan calon pemilihnya. Ada yang mensponsori rekreasi hingga menjamin dengan memberian asuransi dan banyak lagi.

      Sebagai tim sukses kami punya cara sendiri dalam menarik simpati. Bukan dengan uang yang dihamburkan tapi lebih sentuhan personal. Yah.. operasi kami Pelayanan Kesehatan dan pemberian nasehat seputar Bagaimana Cara Hidup Sehat.
Mengapa cara ini ditempuh? Karena memang peduli kesehatan ini sudah lama digeluti Caleg yang kami usung, tinggal lebih diperluas saja wilayah pelayanannya.
Sepertinya sudah lekat dihati tim kami slogan  yang satu ini :  "Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani" atau yang populer dikenal #AYTKTM.

     Tiba saat yang menegangkan tiba, seluruh Caleg tentu berharap sama, walau dengan modal dan niat yang berbeda untuk bisa duduk dikursi anggota dewan kata sebagian orang itu 'mulia', padahal yang mulia dimata Allah seperti yang kita tahu itu 'orang yang paling bertaqwa'.

     Singkat kata Caleg Ibu Saenah tak menang dalam kompetisi juga Caleg yang kami usungpun gagal meraih kursi. Begitulah, takdir menjawab doa dengan caraNya.
Kemarin dalam pertemuan awal setelah Pemilu, kami bertemu dengan Ibu Saenah, wajahnya tak menyiratkan hati yang gundah ataupun imannya goyah.
Alhamdulillah, rupanya Allah masih menjaga iman dan akhlaknya.
Tak seperti sebagian Caleg Gagal yang ramai diperbincangkan dimasyarakat. Banyak ditemui yang menderita mulai dari stress ringan hingga stress tingkat tinggi yang endingnya harus berakhir masuk Rumah Perawatan Psikis.
Yang lebih menarik Caleg Gagal dari tim yang kami usung, karena diketahui salah satu profesinya sebagai Peruqyah Syar'iyah meski mengantongi gelar Insinyur, kemarin dihubungi keluarga Caleg Gagal dari partai lain untuk membantu meruqyah karena menderita stress ringan akibat tak bisa menerima kekalahan.
Lalu mengapa Caleg yang kami usung dan semua Caleg dari partai kami tidak ada yang stress?
Mungkin jawaban yang tepat karena Caleg dari partai kami Tidak Mencalonkan tapi Dicalonkan, setelah melalui penilaian personal dari Qiyadah/Pemimpin di Lingkungan Partainya.

     Gagal itu bagian dari Sunatullah dari setiap kompetisi, yang terpenting gagal tak harus mengakhiri pelayanan yang sudah menjadi pilihan perjuangan. Jadi Caleg Gagal? Tak jadi soal!